Posts

Bebas Malaria, Prestasi seluruh anak Bangsa

Program Pengendalian dan Pencegahan Malaria di Indonesia bertujuan untuk eliminasi malaria pada tahun 2030. Provinsi NTT merupakan penyumbang kasus malaria terbesar ke-2 di Indonesia. Angka kejadian malaria di NTT hingga tahun 2021 sebesar 1.72 per 1000 penduduk dengan total kasus sebanyak 9.419 positif malaria. Kabupatern Sumba Barat Daya  merupakan salah satu Kabupaten endemis tinggi malaria.

Salah satu upaya mendukung pengendalian malaria yaitu menjamin ketersediaan logistik malaria. Ketersediaan logistik malaria berupa tersedianya OAM (DHP, Primaquin, Artesunate, dll), RDT, serta alat/bahan laboratorium dan pengendalian vektor lainnya pada setiap fasilitas kesehatan dan Dinas Kesehatan Kabupaten & Kota. Logistik malaria memiliki peranan dalam keberlangsungan pelayanan di fasilitas kesehatan seperti tatalaksana malaria untuk penyembuhan penyakit malaria, penegakan diagnosis malaria, dan kegiatan pengendalian vektor.

Indikator logistik malaria yaitu kelengkapan laporan logistik dan laporan faskes tidak putus stok. Menjamin ketersediaan logistik perlu manajemen logistik yang baik. Manajemen logistik didasarkan pada suatu siklus dimana semua unsur dalam siklus tersebut harus dijaga agar sama kuatnya dan segala kegiatan harus selalu selaras, serasi dan seimbang. Manajemen logistik obat terdiri beberapa tahapan yaitu perencanaan, pengadaan, pendistribusian dan penyimpanan. Setiap tahap tersebut saling berkaitan satu sama lain, sehingga harus terkoordinasi secara baik agar berfungsi secara optimal.

Kegiatan ini diawali dengan melaporkan maksud dan tujuan ke Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Barat Daya yang diwakili oleh Sekretaris Dinas Kesehatan bersama dengan Kepala Bidang P2P dan Pengelola Malaria, dilanjutkan dengan Diskusi.

Adapun hal-hal  yang dilaksanakan untuk mendukung ketersediaan logistic malaria di Kabupaten adalah Monitoring dan evaluasi perencanaan, pengadaan, distribusi dan penyimpanan logistic, Menjamin ketersediaan logistik malaria pada Instalasi Farmasi Dinas Kesehatan & Kota, dan fasilitas Kesehatan.

Kegiatan Monitoring & Evaluasi Logistik Malaria dilaksanakan pada 12-15 Oktober melibatkan Kepala Bidang P2P, Pengelola Malaria Kabupaten, pengelola Obat Malaria di Gudang Farmasi, dan uji Petik  di 2 Puskesmas yaitu Puskesmas Watukawula dan Puskesmas Radamata  dengan metode  wawancara, pengamatan, dan pengecekan terhadap ketersediaan obat malaria serta alat dan bahan lainnya, melakukan monitoring terhadap pencatatan dan pelaporan seperti kartu stok dan laporan bulanan, mengetahui tatacara atau prosedur yang berlaku dalam distribusi atau permintaan logistik, serta monitoring penyimpanan logistik.

Hasil dari kegiatan ini menunjukan bahwa perlu adanya pengusulan pengadaan alat dan bahan laboratorium untuk mendukung diagnosa kasus di kabupaten Sumba Barat Daya mengingat alat dan bahan lab yang kini terbatas pada tingkat provinsi dan pusat. Selain itu, perlu adanya sistem koordinasi yang melibatkan pengelola malaria dan farmasi agar pengelola malaria dapat terinformasikan jika ada distribusi logistik malaria dari Dinas Kesehatan Kabupaten ke Puskesmas.