Pencatatan dan pelaporan benar dan Riil Time berkontribusi terhadap Penatalaksanaan TB/HIV

Tuberkulosis (TBC) masih menjadi masalah kesehatan baik secara global dan Indonesia. Dimana Tuberkulosis menempati peringkat 10 teratas penyebab
kematian di dunia. Menurut Global Tuberculosis Report 2021, sekitar 1,3 juta orang tanpa HIV dan 214.000 orang dengan HIV (ODHIV) meninggal karena sakit TBC pada tahun 2020. Epidemi Human Immunodeficiency Virus (HIV) menunjukkan pengaruhnya terhadap peningkatan epidemi Tuberkulosis (TB) di seluruh dunia yang berakibat meningkatnya jumlah kasus TB di masyarakat. Epidemi ini merupakan tantangan terbesar dalam pengendalian TB dan banyak bukti menunjukkan bahwa pengendalian TB tidak akan berhasil dengan baik tanpa keberhasilan pengendalian HIV. Sebaliknya TB merupakan salah satu infeksi oportunistik yang disebabkan oleh bakteri Mycrobakterium Tuberkulosis banyak terjadi dan penyebab utama kematian pada Orang dengan HIV-AIDS (ODHA). Kolaborasi kegiatan bagi kedua program merupakan suatu keharusan agar mampu menanggulangi kedua penyakit tersebut secara efektif dan efisien.

Kegiatan kolaborasi TB-HIV di Indonesia merupakan rangkaian kegiatan bersama program Pengendalian TB dan program pengendalian HIV yang bertujuan untuk mengurangi beban TB dan HIV pada masyarakat akibat kedua penyakit ini. Sejalan dengan rekomendasi WHO, kegiatan kolaborasi TB-HIV di Indonesia adalah kegiatan yang berupaya untuk mempercepat diagnosis dan pengobatan TB pada pasien HIV dan sebaliknya mempercepat diagnosis dan pengobatan HIV pada pasien TB, dengan memperkuat jejaring layanan keduanya.

Menurut laporan SITB ( Sistem Informasi Tuberkulosis) Provinsi NTT tahun 2021, pasien TBC yang di tes HIV atau tau status HIV sebanyak 2.047 kasus, sedangkan yang tercatat di SIHA adalah 1.092 kasus, pasien TB dengan HIV posisif yang tercatat di SITB sebanyak 113 kasus dan yang terlapor di SIHA kasus baru orang dengan koinfeksi TB-HIV sebanyak 31 kasus. Dari pelaporan tersebut masih ada kesenjangan data, alur pencatatan di SIHA maupun SITB sehingga diperlukan adanya pertemuan koordinasi dengan program HIV dan intensifikasi validasi data untuk mengevaluasi apakah sistem pencatatan dan pelaporan sudah dilaksanakan dengan baik dan benar, maupun logistik tersedia cukup untuk skrining HIV di kabupaten/kota. Tujuan dari pertemuan ini antara lain : Menguatkan jejaring layanan kolaborasi antara program TB dan program HIV, Meningkatkan akses tes HIV atas inisiasi petugas kesehatan yang ditujukan bagi pasien TB dan bagaimana membangun jejaring pelayanan pemeriksaan untuk menegakan  diagnosis TB dan HIV, Meningkatkan jejaring pencatatan pelaporan menggunakan aplikasi SITB, SIHA agar dapat terloporkan recara riil time

Dalam rangka mencapai tujuan diatas maka dilakukan pertemuan dukungan teknis dan pendampingan penatalaksanaan TB/HIV tingkat Prov. NTT, yang dilaksanakan di Kabupaten Sumba Barat Daya dengan diikuti oleh pengelola TB dan Pengelola HIV Dinas Kesehatan, Pengelola TB dan HIV Rumah Sakit sedaratan Sumba. Dalam rangka melihat kesenjangan data, alur pencatatan di SIHA maupun SITB sehingga dapat mengevaluasi apakah sistem pencatatan dan pelaporan sudah dilaksanakan dengan baik dan benar, maupun logistik tersedia cukup untuk skrining HIV di kabupaten/kota.


#TOSSTB #TemukanObatiSampaiSembuh #SumbaBaratDaya #TB/HIV

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *